Influencing People Around You

Last week I visited one of the production unit my company owned in Cilacap, Central Java. Unexpectedly, a senior employee approaching me and shook my hand, “You are Surya, right? You were assigned in Central Java area if I’m not mistaken. We met several years ago”. To be honest, I was totally forget. He mentioned his name to remind me and told me that we met when I conducted internal training for the company. During the training, I taught about investment and one of the topic was about real estate investment. We had a discussion about it and surprisingly that discussion lead him to bought a used house in Yogyakarta. 

“I bought a house near Ambarrukmo Plaza (it is one of the most crowded shopping mall in Yogyakarta), for Rp 400 million in 2011. It is now worth around Rp 1,2 billion”, he told me his story. “That is wonderful”, I said. “I renovated the house and make it as a guest house”, he continued his story. “I employ my relatives and the house make money for me!”, “That’s even better” I responded. Then he is thinking about selling it, but I advised him not to since he is going to retire soon and the property is good enough to work for him during his retirement. But, if he has to sell it, I ask him to add the business value for the property instead of selling the house based on market price only. “If you really have to sell it, please consider the business value of your guest house. Do not use the market price only, but you have to add the business value on it”.

In the end of our conversation, he thanked me once again for the knowledge I shared. I can only smile and thanked him back, but deep in my heart I was shocked. I never really thought that my words can give a real impact in someone’s life. In a nutshell, we can influence anyone, anywhere with anything we do. Whether we mean it or not. Somebody might inspired by us to do good or bad things. It means that we need to make sure what we inspired people to do is in somethings positive. So, be careful for what we do and say, because it might influence others in an unexpectedly forms. We might not know..

If you want to discuss further, please feel free to write some comments or mention me at twitter: @Surya_Anindita

Posted in Life, Property | Tagged , , , , , | 1 Comment

This Is Not Goodbye..

Artikel saya kali ini adalah extended version dari apa yang pernah saya sampaikan dalam acara perpisahan warga Leeds 2014-2015 di kediaman Ketua PPI Leeds periode yang sama pada akhir Agustus 2015 yang lalu dan juga sempat saya singgung dalam pamitan kami pada pengajian Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) cabang Leeds beberapa hari sebelum kepulangan kami ke Indonesia pada bulan September 2015.

Artikel ini saya persembahkan kepada rekan-rekan kami di Leeds periode 2014-2015 dimana pun kalian berada saat ini. Namun demikian, semoga artikel ini juga akan memberikan manfaat kepada para pembaca yang lain.

Setahun sudah kebersamaan kita hidup bersama dalam satu kota di perantauan yang terpisah setengah dunia dari Indonesia. Kalo dibilang tidak terasa, tentu itu sebuah kebohongan belaka karena tentunya dalam setahun tersebut tersimpan berbagai kenangan yang tiada akan terlupakan. Di bulan Desember ini, tiba lah saat kelulusan dimana masing-masing dari kita akan menapaki langkah baru kehidupan dengan berbagai tantangan yang siap menghadang. Beberapa dari kita mungkin akan dipertemukan kembali atau justru menapaki jalan bersama, namun buat sebagian lagi bisa jadi ini merupakan sebuah perpisahan. Untuk itu, ijinkan saya untuk berbagi beberapa hal yang semoga bermanfaat di dalam kita menapaki jejak langkah kehidupan kita berikutnya.

Do not ever worry about money

Ya, jangan pernah khawatirkan tentang uang. Banyak diantara kita yang sering kali mengkhawatirkan tentang uang. Ada yang berpendapat bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan paling aman, suami-istri salah satu harus jadi karyawan yang bergaji rutin supaya ada jaminan tiap bulan bisa makan, dan mitos-mitos yang lain. Sering kali kita lupa bahwa yang bisa menjamin itu hanya Allah swt. Rezeki itu sudah ada yang menjamin, tidak akan habis rezeki kita sebelum ajal tiba.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Jadi, daripada berfokus untuk mencari pekerjaan bergaji besar, fokuslah terlebih dulu untuk mencari tahu hal-hal yang kita sukai dan berpotensi memberikan manfaat kepada orang lain. Sebagaimana kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Mengapa harus hal yang kita sukai? Karena tidaklah mungkin kita melakukan yang terbaik pada bidang yang tidak kita sukai, dan bagaimana mungkin kita bisa memberikan manfaat secara maksimal kalo tidak melakukan yang terbaik?

Do your best in things you love and make sure it will benefit others” (M. Surya Anindita)

Dengan melakukan pekerjaan yang kita sukai, kita akan bisa berkontribusi maksimal dan jadi ahli pada bidang tersebut. Di situ lah kita bisa memaksimalkan potensi kita untuk memberikan kebermanfaatan kepada orang lain.

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value” (Albert Einstein)

Do your best for your family

Apapun yang akan kita lakukan nanti, ingatlah bahwa kita selalu punya keluarga untuk kembali. Jadi jangan pernah lupakan mereka meski terkadang kita harus terpisah kota bahkan negara. Pesan saya dalam hal ini terutama kepada kedua orang tua kita yang sering kita lupakan ketika kita sudah berkeluarga dan tenggelam dalam rutinitas harian.

Do your best for your parents as they already did for you” (M. Surya Anindita)

Seringkali kita lupa bahwa bisa jadi dibalik kesuksesan kita, bukan karena usaha keras kita, tapi lebih dipengaruhi oleh doa kedua orang tua kita. Jadi berikanlah yang terbaik kepada mereka terutama buat rekan-rekan yang masih beruntung memiliki kedua orang tuanya. Seringkali yang mereka inginkan bukan materi tapi melihat kesuksesan anaknya didalam memastikan hidupnya bermanfaat bagi sesama dan tentunya a simple ‘hello’ among your daily activities.

“You don’t turn your back on your family, even when they do.” (Dominic Toretto)

Remember, we are family

30 tahun yang lalu saya mendapatkan pengalaman serupa ketika di ajak ayah saya mengambil gelar masternya di Filipina. Disana kami memiliki banyak teman sesama pelajar Indonesia dan sering kali kami melakukan kegiatan bersama seperti halnya yang kita lakukan di Leeds. Persahabatan orang tua saya dan rekan-rekannya ternyata terus berlanjut meski sudah kembali ke tanah air dan terpisah antar kota. Setiap ada kesempatan beliau masih berusaha untuk menyambung tali silaturahim ke rekan-rekannya dan begitu pula sebaliknya. Mereka saling mengunjungi, baik ketika ada acara khusus seperti pernikahan maupun hanya sekedar mampir ketika ada dinas keluar kota. Masih segar dalam ingatan saya ketika mereka ikut membantu ayah saya ketika saya mau menikah, dari sekedar meminjamkan mobil hingga ikut mengkarantina saya, hehe.. Bahkan ketika bulan Januari 2015 yang lalu ayah saya mendahului mereka menghadap Allah swt, mereka berdatangan ke Jogja untuk ikut mengantarkan beliau ke peristirahatannya yang terakhir dimana saya sebagai putranya justru berhalangan karena masih di UK. Semoga kita bisa meneladani persahabatan beliau.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, tiba saatnya bagi kita untuk menapaki jejak langkah kehidupan kita berikutnya. Berbagai profesi akan kita jalani dan bukan tidak mungkin sebagian dari kita akan berada di pihak yang berseberangan suatu saat nanti. Bisa jadi ada yang produknya saling bersaing dipasaran, siapa tahu juga ada yang bersaing di kancah politik atau bahkan hukum. Ketika masa itu tiba, ingat lah selalu bahwa kita adalah keluarga, yang pernah menapaki hidup bersama dalam indahnya suasana empat musim di Leeds. Silahkan untuk bertanding secara profesional, tapi di akhir hari pastikan ada waktu untuk berbagi tawa dan cerita dengan kehangatan secangkir kopi.

“I don’t have friends, I got family.” (Dominic Toretto)

To sum up, follow you passion in order to do your best in the things that you love and benefit others. Secondly, do your best for your family especially your parents as they already did for you and remember that no matter what happens we will always be family.

Good luck with the next steps of your life, may the success always be with you and I hope our path will cross again in some points in time…

Posted in Life | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Arus Hidup

Banyak orang masih berprinsip bahwa hidup itu biarlah mengalir seperti air sungai. Padahal hanya sampah dan ikan mati yang mengalir sesuai arus sungai, ikan hidup biasanya berani melawan arus. Anti mainstream kalo anak muda sekarang bilang. Kadang berat memang kalo harus selalu melawan arus, akan lebih mudah untuk mengikuti arus. Tapi arus yang seperti apa? 

Tentukan sendiri arus hidupmu, ikuti kata hatimu, temukan passion-mu. Jalani hidup sesuai takdir ilahi akan lebih mudah dan bermakna. Caranya tidak lain dengan lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan berdoa. Dengan lebih mengenal-Nya, kita akan lebih mengenal diri kita. Dengan mengenal diri kita, siapa kita dan untuk apa kita diciptakan, maka akan lebih mudah untuk menjalani hidup ini sesuai grand design yang sudah disiapkan untuk kita. Tidak ada jaminan bahwa jalan hidup kita akan mulus tanpa rintangan, namun dengan menjalani arus hidup kita sendiri, rintangan sesulit apapun akan lebih mudah kita hadapi. 

Apapun tujuan akhir kita, pastikan saja sepeninggal kita dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Build your legacy..

Ingin diskusi dengan saya? Silahkan tulis dikolom komentar atau mention saya di twitter: @Surya_Anindita

Posted in Life | Tagged , , , | Leave a comment

Ramadhan, I Miss You..

Tonight is the last night of Ramadhan and tomorrow will be Eid Al-Fitr. It should be a happy moment for many of us to celebrate the victory we had after doing all the ibadah in the month of Ramadhan. Unfortunately it is also a sad moment to let the most blessing month, Ramadhan, to go and we do not know whether we can meet the next Ramadhan or not.

I just came home from the Mosque after Isya’ prayer and performing takbir. I realise that I am going to miss this moments. Actually this is not my first Ramadhan abroad, I have experienced Ramadhan in several other countries before. However, I felt this Ramadhan is more special. It is not just because we have to fast for more than 18 hours a day, but it is also the experience to blend with many other moslems around the world with different cultures. I am definately going to miss the shalatul tarawih at midnight, sleepless night waiting for sahoor time, and iftar at Leeds Grand Mosque.

May Allah swt forgives all of our sins, accept our ibadah and giving an opportunity to meet the next Ramadhan wherever we are next year.

 Taqabbalallahu minna wa minkum..

 

If you want to discuss further, please feel free to write some comments or mention me at twitter: @Surya_Anindita

Posted in Life | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Growing Old Is An Option

“You’re the same today as you’ll be in five years except for the people you meet and the books you read.”
― Charlie “Tremendeous” Jones

Somehow Charlie was right, but now I think he might add some other points, like the movie you watch and the people whom you follow on twitter 😊

However, today is my birthday and as long as I can remember this is the first birthday I enter in the middle of witir prayer during the month of Ramadhan. It was wonderful to have a birthday in the Masjid without nobody notices it, except Allah swt and my self.

Reflecting on the years goes bye, I realize there are many chapters that I have been through and I don’t have any idea how many chapters left for me to continue this journey before it comes to the end. But one thing for sure, I always thank to Allah swt for what I have today and for the person I become.

As Charlie quotes in the beginning of this passage, I won’t be like who I am today without the contribution of the people Allah swt sent to my life. Eventhough sometimes we cannot choose who we will meet but we still can actively choose our community, our close friends and with whom we will spend most of our time. It is very important thing to do, because it might determine the person you will become.

Ten years ago, when I start my professional career in an international company and building my network through communities, I tend to spend most of my time with my seniors. They were my colleagues at work and my business partners. Some of them were just managers and some others were very senior person who held key positions in their company or organizations. That kind of communities allow me to grow much faster, my world change rapidly, my brain stretched, and the way I see things will never be the same again.

Nowadays, things have change. Although I keep on looking for the opportunity to grow, amazingly it leads me to some groups of young people who teach me how fun life can be, how important to keep the young spirit inside on our way to reach our dreams, and nevertheless, they have limitless of fresh ideas just to do what they want to do without too many bullshit consideration. Surprisingly, some of them are also dedicate their life to give benefit for others.

They are bunch of energetic young talented people from all over Indonesia. Some of them are public speakers, book writers, travelers, entrepreneurs, and off course, students. Spending time with them make me feel at least ten years younger. I begin to see things from different perspective. I realize the time has change the way we see things. One particular phenomenon can be seen differently ten years ago comparing to now. It does not count the technology it self, but the way human thinks is somehow evolving through time.

However, I learn more from the youngsters than from the senior in the last few years. Surely they have a better chance to have a more meaningful life in the future, despite of whom they are today. One thing for sure, I really enjoy my time with them. Playing drama to represent our country and joining the basketball team in a real competition are like walking through time back in high school. Hope this brotherhood and sisterhood will last forever.

Back to the quote from Charlie, it is possible to get younger as long as you surrounded by the youngsters. Growing old is an option my friends!

If  you want to discuss further, please feel free to write some comments or mention me at twitter: @Surya_Anindita

Posted in Life | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Detachment

Dubai, November 2004. I remember the first international conference I attended. Many things I learnt from that moment from many great speakers and new friends from around the world. Amazingly I got invited to have personal meeting with one of the main speaker to his house and we discussed many things about life and business until 4 or 5 am! 

One lesson that I found very useful and meaningful is about how we should live our life without any attachment. I know it is not easy to understand, it needs deep thought to digest the idea and apply it. Basically it is about to live without bonding. It is true that as social creatures, human being should live in society, helping each other, and counting on each other. But as an individual we should not rely on others and specially on things too much. We should learn to release something that we do not need anymore. Do not ever getting attach with it. Someday we have to learn to let it go. The most important thing is what lies within us, the intangible moments, words, and time we shared.

Many years later, I begin to understand and apply it through time. Now, when your life can be put into a suitcase, you might really understand what a detachment means. When you experienced a point of no return, you might realize what detachment is all about. Then when you have no one but God, you will find your true self and the meaning of your life. It is merely not about having or owning, but it is more about giving. In the end, what we give is what matter the most. Release your attachment.

So, do not ever settle, travel as often as you can. Go see the world, experienced your life in a suitcase or carrier bag and face the point of no return. Living a life without any attachment will make your life lighter and probably closer to Your Creator.

If you want to discuss further, please feel free to write some comments or mention me at twitter: @Surya_Anindita

Posted in Life | Tagged , , , , , , , , , | 2 Comments

Kemandirian Individu Melalui Kewirausahaan Sebagai Solusi Kemandirian Desa Untuk Pondasi Perekonomian Negara

Pendahuluan

Beberapa tahun belakangan urbanisasi menjadi permasalahan tersendiri bagi Indonesia. Ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara desa dan kota, serta pembangunan yang lebih terpusat di kota menyebabkan kota menjadi tempat yang seolah-olah lebih menarik untuk ditinggali dan bekerja mengejar karir serta uang. Bekerja di kota sebagaimana digambarkan pada berbagai media, seolah-olah dianggap lebih keren dan modern.

Cara pandang pembangunan tersebut di Indonesia sudah lama keliru. Jakarta sebagai pusat pemerintahan, artinya jelas identik dengan pusat kebijakan. Pusat kebijakan ini seringkali diartikan, diyakini, hingga dipaksakan juga jadi pusat pembangunan (Sudewo, 2014).

Apabila dibandingkan dengan negara lain, Amerika misalnya, membedakan kota bisnisnya, New York dan Los Angeles, dengan ibu kotanya, Washington DC. Begitu pula dengan Australia, memiliki Sydney sebagai kota bisnis dan Canberra sebagai ibu kota. Bahkan Malaysia yang di kenal memiliki ibu kota Kuala Lumpur, sebenarnya memiliki pusat pemerintahan di luar kota, yaitu di wilayah Putrajaya. Jika diibaratkan dengan Indonesia, semacam Bekasi dan Jakarta.

Untuk itu, perlu dibuat program yang membuat desa kembali menjadi menarik untuk tempat kembali dan berkarya. Seperti slogan mantan Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo, “Bali Ndesa Mbangun Desa” (kembali ke desa untuk membangun desa).

Tiap desa memiliki keunggulan dan potensi masing-masing yang beragam. Namun seringkali potensi tersebut belum bisa muncul karena berbagai sebab dan kendala.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak tiap individu di desa untuk proaktif kembali membangun dan mengembangkan desanya sesuai potensi yang dimiliki, bukan hanya potensi yang dimiliki desanya, namun juga potensi tiap individu sebagai warganya.

Deskripsi Program

Target dari program yang dipaparkan ini bisa dilakukan oleh semua desa di Indonesia tanpa kecuali dengan syarat warganya memiliki kemauan kuat untuk jadi mandiri dalam mengembangkan dirinya dan juga desanya.

Output dari program ini diharapkan tiap individu dalam level kepala keluarga dapat menghasilkan sesuatu yang produktif dan minimal cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarganya.

Terlepas dari kemajuan teknologi yang saat ini telah merambah ke pelosok desa, Tiap desa tentu memiliki sesuatu yang bisa diperdagangkan sebagai sarana menggulirkan roda perekeonomian di desa tersebut, dari hasil bumi, kerajinan, bahkan jasa, seperti lokasi wisata.

Selain potensi dari desa itu sendiri, tiap individu warga desa juga tentunya memiliki keunggulan atau keahlian yang bisa dijual. Dalam hal ini, penulis ingin mengajak warga desa untuk memikirkan potensinya masing-masing guna meningkatkan taraf hidupnya yang kemudian mengangkat perekonomian desa dan bergulir terus nantinya menjadi pondasi perekonomian negara. Hal ini sudah terbukti ketika krisis ekonomi menerpa Indonesia di tahun 1998, Usaha Kecil dan Menengah-lah yang menjadi penyelamatnya.

Tulisan ini menggunakan asumsi bahwa pelaku usaha adalah warga desa dalam level kepala keluarga, sedangkan untuk target pasarnya beragam tergantung produk yang dihasilkan dan kesiapan warga desa didalam memasarkannya. Sebagai contoh, untuk produk makanan jadi tentunya target pasarnya adalah sesama warga desa atau tetangga desa. Sedangkan untuk produk berupa baju, kerajinan, dan bahan makanan tentu bisa menjangkau target pasar yang lebih luas hingga ke luar kota.

Memulai Usaha

Biasanya dalam melihat peluang usaha, pelaku usaha fokus kepada siapa yang menjadi target pembeli, kemudian diusahakan untuk memenuhi kebutuhan target pembeli tersebut. Namun tulisan ini mencoba melakukan pendekatan lain, yaitu melihat potensi dari apa yang dimiliki, kemudian mulai dari hal yang paling sederhana. Contoh, apabila warga desa masih memiliki tanah untuk digarap dan ditanami, cobalah untuk menanam sesutu yang bisa dikonsumsi, minimal untuk diri sendiri, seperti buah dan sayuran. Bisa juga untuk beternak, seperti ayam, kambing atau sapi. Hewan tersebut bisa dimanfaatkan hasil produksinya, seperti telur dan susunya, atau juga bisa dikembangbiakkan untuk diambil dagingnya.

Pembuatan lahan pertanian dan peternakan tersebut bisa juga dilakukan warga desa secara kolektif dengan dikoordinir oleh pemerintah setempat.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah memulai berdagang. Sangat baik apabila warga desa memiliki keahlian tertentu untuk memproduksi sesuatu, misalnya kerajinan, kain tenun, batik, atau makanan olahan seperti tempe dan tahu. Namun apabila tidak ada, bisa juga dengan membantu menjualkan produk yang dihasilkan oleh tetangganya.

Satu hal yang sering terlupakan adalah menggunakan merk pada barang dagangannya, misalnya Tempe Yu Surti atau Tenun Mas Tedjo. dengan mencantumkan nomor telepon, alamat dan lebih bagus kalau memiliki situs web, supaya konsumen bisa dengan mudah menghubungi apabila perlu pesanan.

Cara lain adalah dengan mencari mitra. Semisal ada tetangga desa memiliki usaha bakso yang enak dan laris, tawarkan untuk buka cabang di tempat kita. Dengan merombak sedikit halaman rumah atau teras, manambah meja dan kursi, menempel spanduk, jadilah kita memiliki warung bakso. Lebih ekstrim lagi, dengan cara membeli bakso dari pembuat bakso kemudian dijual dengan merk sendiri. Mirip dengan cara ini adalah membuka usaha makanan pesanan, seperti risoles, pastel, onde-onde dan kue. Carilah tetangga desa yang biasa membuat kue-kue tersebut kemudian dibungkus ulang menggunakan dus dengan merk sendiri lalu dijual kembali dengan harga sedikit lebih mahal.

Selanjutnya apabila warga desa berkeinginan untuk usaha retail, seperti berjualan kebutuhan sehari-hari atau membuat bengkel, selama memiliki tempat yang bisa digunakan, hal-hal lain bisa jadi mudah. Saat ini sudah banyak grosir barang-barang kebutuhan sehari-hari dan barang kebutuhan bengkel tersedia hingga kepelosok Indonesia. Dengan pengalaman penulis bekerja di industri makanan olahan dan otomotif, untuk bekerja sama dengan grosir adalah hal yang mudah, bahkan mereka dengan senang hati akan membantu karena kita bisa menjadi saluran distribusi baru bagi mereka dan kita membantu penjualan mereka juga.

Pemasaran Produk

Apabila sudah memiliki produk untuk dijual, berikut beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan penjualan:

  1. Gunakan merk sendiri, baik untuk nama toko maupun untuk nama produknya.
  2. Buat kartu nama dengan merk produk sendiri, lengkap dengan alamat dan nomor telepon. Sangat baik apabila ada alamat website, Facebook dan akun twitter.
  3. Manfaatkan setiap acara yang ada di desa dan sekitarnya untuk menyebar kartu nama, seperti acara pernikahan, melayat orang meninggal, sunatan, selamatan, dan sebagainya.
  4. Titipkan produk kita ke toko-toko yang lebih besar.
  5. Buat voucher potongan harga untuk kunjungan berikutnya.
  6. Buat program beli 5 gratis 1 atau sejenisnya dengan memperhitungkan keuntungan.
  7. Buat garansi yang masuk akal.
  8. Gunakan spanduk
  9. Kirim brosur ke rumah-rumah yang menjadi target pembeli.
  10. Gunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, instagram dan Blackberry Messenger.
  11. Ganti foto di profil Blackberry dan update status setiap jam.
  12. Buat program hadiah langsung atau undian.
  13. Jangan lupa bangun database konsumen, sehingga setiap ada berita terbaru mengenai produk/usaha kita, konsumen dapat diberitahu dengan cepat.

Perkiraan Biaya/Modal

Dari beberapa alternatif wirausaha yang dipaparkan diatas, nyaris semua tanpa modal. Tanpa modal disini tentunya tidak berarti sama sekali tanpa membutuhkan uang, pemikiran, dan tenaga. Sudah pasti akan ada biaya komunikasi, transportasi, diskusi, dan sebagainya. Akan tetapi, dengan adanya dana desa dari pemerintah dan minimal 10% pendapatan pajak daerah, itu sudah lebih dari cukup untuk pemerintah desa dalam memfasilitasi warganya dalam berwirausaha. Semisal dengan membuka sentra pertokoan baru atau memperluas pasar yang sudah ada. Namun demikian, akan lebih baik apabila berkolaborasi dengan berbagai instituti setempat seperti BUMD, BUMN, perusahaan swasta, dan jenis kelembagaan lain yang berdomisili disekitar desa tersebut. Tujuannya bukan sekedar untuk mendapatkan dana Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) atau Corporate Social Responsobility (CSR) mereka, namun lebih kepada membuat jaringan dan potensi bantuan lain. Sebagai contoh, Pertamina sering menggunakan dana CSR-nya untuk memberi modal warga desa yang tinggal disekitar wilayah operasi Pertamina, misalnya untuk membuka bengkel. Harapannya bengkel tersebut menjadi saluran distribusi baru penjualan produk-produk Pertamina, misalnya pelumas. Dengan kerja sama semacam ini, pemilik bengkel yang merupakan warga desa akan mendapatkan dukungan lain seperti pelatihan wirausaha, pengecatan bengkel, pemasangan spanduk dan materi promosi lainnya. Contoh lain, warung-warung disekitar pabrik makanan olahan seringkali mendapat dukungan materi promosi dan pelatihan wirausaha dengan cara kerjasama menjualkan produk-produk mereka.

Pengelolaan Keuangan

Untuk memastikan bahwa usaha yang dilakukan berkembang, keuntungan usaha harus diinvestasikan untuk hal-hal yang produktif, semisal untuk membuka cabang, memperluas toko, menambah alat-alat produksi, dan sebagainya. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pisahkan antara uang pribadi dengan uang usaha. Apabila perlu, buat dua rekening bank yang berbeda.
  2. Gaji diri sendiri, jangan ambil keuntungan usaha untuk dimakan sendiri.
  3. Jangan lupa zakat dan sedekah.
  4. Minimumkan biaya operasional, seperti listrik, telepon, air, dsb.
  5. Gunakan keuntungan usaha untuk investasi.

 

Mitra Potential

Seperti yang telah dijelaskan diatas, mitra potensial yang dapat diajak kerjasama adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan atau memiliki wilayah operasi di seputaran desa tersebut. Selain itu, perusahaan distributor dan toko grosir juga dapat diajak kerja sama didalam membuat sebuah usaha, bahkan dalam level individu sekalipun. Jangan lupa juga untuk bergabung dengan komunitas pengusaha di lokasi-lokasi terdekat, seperti komunitas Tangan Di Atas, Keluarga Pengusaha Muslim Indonesia, Komunitas SuksesMulia, dan sejenisnya. Penulis dengan senang hati memberikan contact person di berbagai wilayah seandainya dibutuhkan.

Tenggat Waktu

Tidak ada tenggat waktu khusus untuk membuka sebuah usaha, semua tergantung pelakunya dan kesiapan yang dimiliki. Semisal dari nol dan besok berkeinginan membuka toko baju, tinggal besok datang ke pasar, foto beberapa baju dan unggah di Facebook atau di foto profil Blackberry Messenger sudah bisa langsung jadi buka toko baju. Bahkan dengan menggunakan memanfaatkan social media melalui internet seperti ini, pasar kita jadi makin luas, tidak hanya tetangga desa namun juga menjangkau daerah lain di Indonesia.

Penutup

Hidup di desa atau di kota adalah sebuah pilihan individu di dalam mencapai impiannya, tulisan ini sekedar mengingatkan bahwa hidup di desa tidak identik dengan keterbelakangan, namun justru sebaliknya dapat menjadi penopang kehidupan kota dan tetap dapat memberikan kesuksesan dan kebermanfaatan, baik di level individu maupun daerah. Tantangan program ini murni tergantung individu yang menjalankan. Dari pengalaman penulis mengunjungi beberapa tempat di Indonesia, banyak didapati warga desa dengan segala potensinya memilih untuk menganggur dan bermalas-malasan, tidak ada tujuan hidup dan menjadi beban keluarganya. Penyadaran sikap mental seperti ini yang tidak mudah untuk dibenahi dalam waktu dekat. Perlu penyuluhan yang intens dan pendampingan yang tidak sebentar. Meskipun demikian, masyarakat desa memiliki sifat gotong royong dan kerja sama yang lebih baik dari masyarakat kota yang cenderung individualis. Hal ini tentunya bisa menjadi modal wirausaha yang sangat baik.

Berbicara soal resiko, seperti yang telah disampaikan bahwa ide-ide usaha diatas nyaris tanpa modal, sehingga nyaris tidak ada resiko secara finansial. Kemungkinan hanya resiko waktu dan apabila tidak menyerah, maka pembelajaran yang didapat justru merupakan investasi tersendiri.

Sebagai penutup, dapat ditambahkan bahwa dengan tekad dan kemauan yang kuat, disertai doa dan usaha yang persisten, tidak ada yang mustahil untuk dicapai. Sulit tidaknya program ini diterapkan sangat tergantung pada kemauan dan tekad dari para pelakunya.

Ingin diskusi dengan penulis? Silahkan tulis dikolom komentar atau mention penulis di twitter: @Surya_Anindita

Posted in Business | Tagged , , , , , , , | Leave a comment